Sunday, March 9, 2014

Special Entry : Aku Memang Heartless



35 tahun lalu...


"Zev Sulaiman!" Teacher Mariam bersuara keras kepada kanak-kanak lelaki yang diam menekur meja di sudut kelas itu. Kanak-kanak berumur 9 tahun itu mendongak lalu tersenyum senget kepada guru Bahasa Inggeris yang sudah bercekak pinggang di hadapan kelas itu.

"Yes teacher?" jawab Zev selamba sambil kembali menyambung lipatan  kertas yang sudah membentuk ciri-ciri sebuah jet.

"Did you hear my question?" Tanya Teacher Maryam tegas. Zev menggeleng kepalanya laju-laju. Soalan apa pula ni? Manalah nak dengar kalau aku ni asyik lipat kertas ni. Bosan la teacher Maryam ni.

"What do you want to be when you grow up?" Teacher Maryam mengulangi soalannya. Zev memandang wajah gurunya lalu tunduk menyentuh kapal terbang kertasnya. Kapal terbang tersebut diangkat lalu ditunjukkan kepada Teacher Maryam.

"Pilot, teacher." jawabnya yakin. Dia memang mahu menjadi seorang juruterbang. Papanya selalu belikan dia replika kapal terbang. Memang minat dia cenderong ke arah kapal terbang. Suatu hari, dia ingin berada di awan biru, terbang bebas bersama burung-burung. Suatu hari nanti, impiannya akan tercapai.

"A pilot? Why a pilot, Zev?" tanya Teacher Maryam lagi.
jemari Zev yang kecil dilalukan halus ke atas kapal terbang kertasnya. Dia berfikir sejenak.Kemudiannya dia tersenyum manis, sebuah memori lama berlayar di benak fikirannya.

"I like flying. If I become a pilot, I can always fly in the skies. The big wide sky." konfiden balasan yang diberikan Zev. Teacher Maryam juga sudah mampu tersenyum mendengar jawapan dari Zev itu.

"Very good Zev. But remember, being a pilot is never easy. When you are a captain, you hold a big responsibility. Everyone's life is on your shoulder. So you should be responsible. Starting from now. You have to pay attention in class, be a responsible student, then only you can grow up and be a responsible pilot. Okay, Zev?"

Zev mengangkat bahunya sebelah. Tangan naik ke kepala dan dahi yang tidak gatal itu digaru-garu. Alamak, kan dah kena sebijik atas muka sendiri.

"Okay...teacher."

***

25 tahun lalu...


"If your flight made an emergency landing..." Kamal bertanya kepada Zev yang sedang baring di atas katil sambil bermain rubrik dadu.

"I'll run and take my life jacket and save my self first." jawab Zev selamba.

"Wey mangkuk! Serius la, esok exam." marah si teman sebilik. Zev tergelak jahat.

"Aku buat lawak jelah. Passengers first, then the crews, then me. I'll be the last person. I'm responsible for their safety and I would do everything in my control to ensure they are safe."ujar Zev setelah beberapa minit ketawa.

"Bodoh la kau." ujar Kamal lagi.

"Bukan bodoh. Saja nak cheer up kan kau. Kau tu stress sangat."

"Tapikan Zev, kau remember tak Tanjung Kupangpunya tragedi? What if that happened again. What if that happened again while we were flying?" pertanyaan itu membuat Zev meletakkan rubrik dadu ke lantai dan duduk tegak memandang Kamal yang juga sudah menutup bukunya itu.

"Entahlah Kam. Aku pun tak tahu nak describe perasaan semua mangsa atas flight tu masa tu. I guessed, kalau Allah dah takdirkan kita lalui benda tu, kita ni siapa nak elak kan? Kita ada dekat sini pun dah takdir, ajal dan maut kita pun dah ditetapkan. Kalau kita ditakdirkan habiskan sisa hidup kita dalam kapal terbang, kita nak buat macam mana? Kita tak boleh persoalkan apa yang Allah dah tetapkan. We can just pray that He eases our path, that's it."

"You surely are a heartless yet calm person dude. You'll make a great captain one day." Puji si Kamal. Zev membeliakkan matanya sambil mengangkat bahu.

"Kau pun lah. Brainiac. Kalau apa-apa jadi masa airborne, neuron kau konfem akan tahu apa nak dibuat tanpa cepat panik."

"But still Zev, we are doing the impossible here."

"Yep, the impossible." Akur Zev sambil mengangguk berkali-kali.

"So if the plane crashes..."

"I'll fly every moving bits of it then only I will say the word crash when I have lost every single hope of keeping it in midair."

"That's the spirit!"

"That's our responsibilty, Kamal. Our responsibility to do the best of what we could bila kita airborne." Jawab Zev, kali ini dia yang serius.
Kamal tersenyum dalam diam.

Zev kembali bermain dengan rubrik dadunya. Dalam diam dia mula sedar sesuatu, semua yang nak ambil exam esok juga sedar, dalam mereka belajar terbang, nyawa penumpang dan juga nyawa mereka terletak di dalam tangan dua orang yang berada di dalam kokpit.Tak semua orang berani mengambil cabaran tersebut. Hanya yang terpilih mampu menggalas tanggungjawab yang terlampau berat itu.

                   

        *The end*




Tribute to MH370 * I know this is my lousiest piece, but I am not at ease to write a good piece yet. But I hope, the message would pass through.

P/S : The ultimate responsibility of the pilot is to fulfill the dreams of the countless millions of earthbound ancestors who could only stare skyward and wish.-Unkown

Dearest captain, if you are still breathing, please do not lose hope. Our prayers are with you and all your passengers onboard. Please return. We are waiting, no matter how long it takes, we will still wait for a miracle to happen. You are the soul of the flight, one can never lose hope, unless the soul is detached from the body.

#Pray for MH370




If you do not know who Zev is then you may want to read this? I don't know, it's okay to not read also, but if you do wanna read then click : Aku Memang Heartless

6 comments:

  1. (Y) luv it budak musyuk... jgn henti doa k... inshaaAllah ada sesuatu yg kita tak tahu

    ReplyDelete
  2. dik pembetulan ye Tanjung Kupang bukan Tanjung Karang

    ReplyDelete
  3. Best..pray 4 MH370
    -ada

    ReplyDelete
  4. best...ingtkn ada lg smbngn zev dgn his wife..hehe...sikit sebanyak cter ni mengingatkn sy pd MH370 yg hilang...apa2 pon pray for MH370 semoga dpt dijumpai...insya-ALLAH...Dia Maha Mengetahui Apa yg Terjadi.

    ReplyDelete